RANGKUMAN KONEKSI ANTARMATERI MODUL 3.1

Rangkuman Koneksi Antar Materi Modul 3.1  - Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan. Dan rangkuman ini sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan Pemantik yang diberikan dalam LMS, sebagai berikut :

"Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah terbaik"

(Teaching kids to count is fine, but teaching them what counts is best) 

Bob Talbert

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Kaitan kutipan di atas dengan pembelajaran yang saya pelajari saat ini menurut saya adalah, bahwa pendidikan adalah sebuah proses menyeluruh yang meliputi aspek pendidikan karakter yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu olah hati (spiritual), olah pikir (intelektual), olahraga (kinestetik) dan olah rasa (estetika). Keempat dimensi ini tentunya saling melengkapi dan berkaitan dengan perwujudan nilai yang mulia di dalam diri tiap individu. Jadi maksud dari kutipan tersebut aspek olah pikir/intelektual  itu perlu dan baik untuk diajarkan kepada anak, namun ada hal yang lebih penting dan bermakna serta wajib ditanamkan ke anak, yaitu Pendidikan Karakter,  Budi Pekerti dan Akhlak Mulia. Kutipan tersebut menghadapkan seorang Pendidik pada sebuah Dilema Etika Pembelajaran,  yaitu apakah mendahulukan materi yang akan diajarkan, ataukah nilai-nilai karakter, karena kedua-duanya benar. 

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-pinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Seharusnya nilai-nilai pengambilan keputusan yang dianut haruslah berbasis pada nilai-nilai kebajikan universal dan berpegang pada  3 prinsip pengambilan keputusan, yaitu : (1) Saya lakukan itu karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang  (2) Ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah ditetapkan dan (3) Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang diharapkan orang lain lakukan terhadap anda. Dan juga berpatokan pada 4 paradigma, 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan menganut dan menerapkan nilai, prinsip, paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan sebaik-baiknya, maka keputusan yang terbaik pasti akan didapat dan berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain (lingkungan sekitar).

 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan dengan melaksanakan dan menerapkan  nilai  dan peran saya sebagai seorang Pendidik sekaligus sebagai pemimpin pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Adapun nilai dan peran saya sebagai seorang Pendidik adalah sebagai berikut :

Nilai :

 a. Berpihak pada murid

 b. Mandiri

 c. Kolaboratif

 d. Inovatif dan

 e. Reflektif

 Peran  :

 a. Menjadi Pemimpin Pembelajaran

 b. Menggerakkan komunitas Praktisi

 c. Menjadi coach bagi guru lain

 d. Mendorong kolaborasi antar guru

 e. Mewujudkan kepemimpinan murid

 

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

"Education is the art of making man ethical."

Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Menurut saya maksud dari kutipan ini adalah sejalan dengan Filosofis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, yaitu Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak.  Dan selaras serta sejalan dengan Tujuan Pendidikan yang dicetuskan oleh KHD, beliau menjelaskan bahwa Tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Kodrat alam terkait dengan sifat dan karakter anak. Peran pendidik tidak bisa menghapus sifat dasar sang anak, yang bisa dilakukan adalah menuntun mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga dapat menutupi/mengaburkan sifat-sifat yang tidak baik. Sedangkan terkait dengan kodrat zaman, pendidik menuntun anak untuk mendapatkan keterampilan sesuai zamannya agar mereka bisa menghadapi masa depan sesuai dengan Keterampilan Pembelajaran  Abad 21. Pendidik harus tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada. Namun, tidak semua yang baru itu baik, jadi perlu disaring dan diselaraskan sesuai dengan potensi kultural sosial budaya yang kita miliki.  

Seorang pendidik harus memahami bahwa dalam pendidikan dan pengajaran budi pekerti merupakan bagian terintegrasi dalam pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Salah satu bentuk penanaman budi pekerti yang baik bagi murid yaitu dengan memberikan teladan kepada murid dengan mencontohkan secara langsung dalam perilaku sehari -- hari, sehingga murid dapat meniru dan menjadikan hal ini sebagai proses pembiasaan bagi mereka.

 

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Pemikiran KHD dengan Protap Trilokanya harus diterapkan dalam setiap pengambilan keputusan sebagai seorang Pemimpin, yaitu pemimpin Pembelajaran. Dan menurut saya Filosofis Pemikiran KHD masih relevan untuk diterapkan sebagai landasan dasar pengambilan keputusan yang berbasis nilai-nilai kebajikan universal, prinsip-prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Kaitan antara Seorang pemimpin pembelajaran dengan pengambilan keputusan hendaknya melaksanakan dan menerapkan serta menyelaraskan Pengambilan Keputusan dengan Protap Triloka KHD, yaitu :

1. Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan teladan)

2. Ing madyo mangun karso (di tengah memberikan motivasi)

3. Tut wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan)

 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan?

Seorang Pendidik harus memiliki nilai-nilai yang positif, yaitu nilai yang berpihak pada murid,mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif. Nilai-nilai tersebut harus dipegang teguh, ketika seorang Pendidik harus mengambil keputusan yang dilematis ataupun Bujukan Moral. Dan nilai-nilai yang sudah tertanam dalam jiwa seorang pendidik pastinya akan selalu diterapkan ketika pengambilan keputusan dibuat, dan berpengaruh dalam setiap pengambilan keputusan. Seyogyanyalah keputusan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME, diri sendiri dan orang lain. Dengan begitu Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan hasil dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan telah dijalankan sebaik-baiknya. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. 


3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil?  

Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan  keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Coaching merupakan sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi masalah, berorientasi pada hasil, dan sistematis. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Coaching dalam konteks sekolah merupakan keterampilan coaching sangat perlu dimiliki oleh seorang Pendidik/Guru dalam rangka menuntun murid semua potensi yang dimilikinya untuk  mencapai keselamatan dan kebahagiaan seagai individu dan anggota masyarakat. Dalam prosesnya, murid diberikan kebebasan, tetapi guru bertindak sebagai seorang Pamong yang memberi tuntunan dan memberdayakan semua potensinya agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Selama pembelajaran di PPGP ini saya merasa bahwa Fasilitator saya sudah menjalankan fungsinya sebagai Coach yang baik, dan saya sebagai Coachee telah berhasil memecahkan masalah saya sendiri terkait dengan pengambilan keputusan yang saya buat. Dan Coach saya mengarahkan agar setiap pengambilan keputusan harus berbasis nilai-nilai kebajikan, menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang baik, 4 paradigma dan menggunakan konsep 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya merasa keputusan yang saya ambil sudah tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tidak ada keraguan untuk melaksanakan apa yang sudah disepakati, setelah saya melakukannya dengan Coach yang saya anggap kerkompeten dan tepat. 

 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah atau kasus dilema etika,  seorang guru pastinya mengalami gejolak  pada aspek sosial emosionalnya. Apabila dirasa perlu ketenangan sebaiknya melakukan TEKNIK STOP secara berulang untuk menghadirkan kesadaran penuh dan relaksasi.. Dan jika dirasa masih ragu untuk memtuskan serta memerlukan bantuan orang lain, hendaknya melakukan coaching, dengan Coach yang dianggap memiliki kemampuan dan berkompeten, sehingga keputusan yang dibuat dapat dievaluasi dan direfleksi.Setelah melalui pemikiran ulang, evaluasi dan refleksi,pengambilan keputusan yang dilakukan adalah yang terbaik dan dapat dipertanggung jawabkan.

 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang Pendidik?

Seorang Pendidik harus dapat mengidentifikasi manakah kasus yang masuk katagori Dilema Etika ataukah Bujukan Moral. Karena dengan mengidentifikasi setiap kasus atau permasalahan, maka akan didapatkan pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan. Dan seorang Pendidik harus benar-benar bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang Guru yang memiliki nilai dan peran yang sangat relevan dengan nilai-nilai kebajikan universal,yaitu berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif dan sejalan dengan prinsip-prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan.


6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman serta nyaman. Hal ini dapat dicapai apabila sesorang telah menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan sesuai dengan kasus atau permasalahan yang dihadapi, dan berbasis pada nilai-nilai kebajikan, menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan dengan menjalankan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan.

 

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus  dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

Dalam setiap menghadapi kasus-kasusdilema etika, tentunya memiliki tantangan-tantangan tersendiri ketika menyelesaikannya.

Sebelum saya mengatasi permasalahan atau kasus dilema etika yang saya hadapi, saya akan menelaah dan mengidentifikasi terlebih dahulu serta mengelompokkannya mulai dari kasus yang ringan/kecil hingga kasus yang saya anggap berat. Tantangan utama saya adalah bagaimana saya menyelesaikan kasus yangb membutuhkan banyak pertimbangan, sehingga saya merasa perlu mengkommunikasikannya kepada orang lain, ataupun melalui Rapat Dinas. Nah ketika saya mengemukakan permasalahan/kasus tersebut, pasti akan mendapatkan beragam tanggapan dari para peserta rapat. Yang pada akhirnya keputusan itu tetap saya yang memutuskan selaku Pemimpin Pembelajaran. Disitulah tantangannya, yaitu bagaimana menyamakan persepsi dari orang yang berbeda, sehingga menghasilkan keputuisan yang benar-benar bisa diterima oleh semua pihak dan ada jalan tengahnya. Selain itu juga tantangan lain adalah waktu yang diperlukan dalam mengambil keputusan terkadang ada yang harus diambil keputusan langsung dan perlu pemikiran orang lain. Nah ketika harus memutuskan langsung itulah, saya kadang merasa ada keraguan dengan pengambilan keputusan, sehingga saya perlu meninjau ulang dan merefleksikannya dengan kembali meninjau 4 paradigma benar versus benar, yaitu :

a. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d. Jangka pendek vs jangka panjang (short term vs long term)

 

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang tepat, sesuai dengan nilai dan peran sebagai seorang Pendidik, yaitu pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, mandiri, kreatif, inovatif dan reflektif sudah pasti akan berdampak posistif pada kegiatan pembelajaran serta pengajaran yang sesuai dengan Tujuan Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yaitu Pendidikan dan Pengajaran yang memerdekakan murid.Saya memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid saya yang beragam adalah dengan menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial-Emosional yang tepat sesuai dengan keberagaman yang ada di kelas saya.

 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang Pemimpin Pembelajaran, tentunya dalam setiap pengambilan keputusan harus sesuai dengan nilai dan peran kita sebagai seorang Pendidik/Guru. Nilai-nilai yang berbasis kebajikan universal dan positif serta peran sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid dan mewujudkan kepemimpinan murid haruslah selalu diterapkan. Misalnya pada saat penetuan Kenaikan Kelas. Terkadang Guru dihadapkan pada situasi dilema etika, antara Keadilan versus Kasihan. Selain itu juga penting untuk selalu menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dengan 4 paradigma dan mempertimbangkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Apabila kita sudah benar-benar melaksanakan segala hal yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tersebut, maka keputusan yang diambil adalah yang terbaik dan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid kita.

 

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul 3.1 dengan modul-modul sebelumnya, semua memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Berikut penjelasannya :

1.        Antara Modul 3.1 dengan Modul 1

adalah terkait dengan Pengambilan Keputusan seorang Pendidik/Guru hendaknyalah harus sejalan dengan filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan 3 Protap Triloka KHD, yaitu :

Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan teladan)

Ing madyo mangun karso (di tengah memberikan motivasi)

Tut wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan)

Selain itu juga dalam setiap pengambilan keputusan seorang Pendidik/Guru juga harus benar-benar menjalankan nilai dan perannya sebagai seorang Pendidik/Guru, yaitu berpihak pada murid, mandiri, kreatif, inovatid dan reflektif serta mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang baik.

Dari kebiasaan-kebiasaan atau Budaya Positif yang selalu dilakukan oleh seorang Pendidik/Guru, maka setiap pengambilan keputusan yang dibuat berlandaskan pada ketentuan-ketentuan pengambilan keputusan, yaitu berprinsip pada 3 ketentuan, 4 paradigma dan 9 langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan. Sehingga keputusan tersebut adalah keputusan terbaik yang tidak merugikan dan dapat diterima oleh semua pihak.

 

2.        Antara Modul 3.1 dengan Modul 2 adalah terkait Pengambilan Keputusan yang diambil oleh seorang Pendidik/Guru terkait dengan Pembelajaran dan Pengajaran yang akan dilakukan di kelas, dengan potensi setiap murid yang berbeda. Disinilah seorang Pendidik/Guru perlu mengambil keputusan yang tepat dengan mempertimbangkan Pembelajaran yang berpusat pada murid, yaitu menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi dan Pembelajaran Sosial Emosional. Apabila di dalam pembelajaran tersebut ada kendala, hambatan, dan tantangan, maka praktek Coaching perlu dilaksanakan, untuk mengambil  keputusan yang berpihak pada murid, dengan peran Pendidik /Guru sebagai Coach terbaik bagi murid-muridnya. Dan ketika kita mengalami keresahan dalam pengambilan keutusan, tidak ada salahnya untuk relaksasi menggunakan TEKNIK STOP sesering mungkin.

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Awal saya mempelajari modul ini ada sedikit kebingungan dalam memahami antara kasus dilema etika dengan bujukan moral. Namun seiring berjalannya waktu dan mempelajari kasus dan analisis kasus, maka saya semakin dapat mengidentifikasi dan menelaah mana kasus yang dilema etika ataupun bujukan moral serta bagaimana cara menanganinya. Dan setelah saya mempelajari dan memahami materi ini, hal-hal diluar dugaan sayapun terjafdi, yaitu ternyata selama ini saya sering dihadapkan pada kasus dilema etika, namun tidak menyadarinya, dan saya telah melakukan pengambilan keputusan yang belum maksimal menerapkan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dengan 4 paradigma dan 9 langkahnya.

 

Berikut pemahaman saya tentang dilema etika, bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan :

1. Dilema Etika; merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan yang secara moral benar, tetapi bertentangan (benar lawan benar)

2. Bujukan Moral; merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah (benar lawan salah)

3. 4(Empat) Paradigma Pengambilan Keputusan

Ada 4 (empat) paradigma pengambilan keputusan, yaitu :

a. Individu lawan masyarakat 

b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan

c. Kebenaran lawan kesetiaan

d. Jangka pendek lawan jngka panjang

 4. 3 (Tiga) Prinsip Pengambilan Keputusan

Ada 3 katagori prinsip pengambilan keputusan, yaitu :

a. Saya lakukan karena itu yang terbaik untuk kebanyakan orang

b. Ikuti prinsip atau aturan-aturan yang telah  ditetapkan

c. Memutuskan sesuatu dengan pemikiran apa yang Anda harapkan orang lain lakukan terhadap Anda

 5. 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan

a. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

b. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi seperti itu

c. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut

d. Pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi/perasaan, uji publikasi dan uji panutan

e. Pengujian paradigma benar lawan benar (gunakan 4 paradigma)

f. Melakukan prinsip resolusi (gunakan 3 prinsip pengambilan keputusan)

g. Investigasi opsi trilema (pilihan keputusan yang lain)

h. Buat keputusan

i. Lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, yaitu pada saat penentuan kenaikan kelas. Saya mengalami pergolakan moral sebuah dilema, dimana ada murid saya, yang jarang masuk, dan selalu hadir hanya pada saat-saat ujian saja. Sedangkan salah satu syarat untuk kenaikan kelas adalah kehadiran sekitar 80%. Saya hanya menyelesaikannya dengan dialog kepada murid saya, lalu memanggil orang tua murid saya tersebut. Namun diperjalanan tetap tidak ada perubahan yang signifikan dari murid saya setelah dilaksanakan pembinaan. akhirnya saya menyampaikan kegalauan saya tersebut kepada Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran tertinggi di sekolah secara pribadi. Kalau menurut saya langkah-langkah yang saya lakukan belum maksimal dan berbeda dari yang saya pelajari saat ini, saya hanya berdialog dan mengkomunikasikannya kepada orang yang saya rasa mampu membantu saya dalam memutuskan.Dan pengambilan keputusan yang saya ambil waktu itu belum sepenuhnya sesuai prinsip-prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengam,bilan dan pengujian keputusan.

 

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari konsep ini pastinya banyak hal positif yang saya dapatkan. Tentunya ada banyak perubahan pada diri saya dalam pengambilan keputusan, yaitu saya harus lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan yang saya buat, dan benar-benar mempertimbangkannya, agar setiap keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak dan merupakan keputusan yang terbaik, yang tidak merugikan siapapun.Selain itu juga saya harus selalu mengidentifikasi mana kasus dilema etika atau bujukan moral, sehingga saya akan memiliki Keterampilan untuk menyelesaikannya dengan baik sesuai dengan prinsip-prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya mempelajari topik Modul 3.1 ini sangat penting sebagai individu karena profesi saya sebagai Pendidik/Guru dan sekaligus seorang Pemimpin Pembelajaran, yang sering dihadapkan pada permasalahan/kasus-kasus dilema etika ataupun bujukan moral, dalam melaksanakan tugas, pokok dan fungsi sebagai Pendidik/Guru/Pemimpin Pembelajaran. Keterampilan mengatasi segala permasalahan menurut saya adalah suatu kompetensi yang harus dikuasai dan dimiliki oleh setiap individu yang berprofesi sebagai Pendidik/Guru/Pemimpin Pembelajaran.

 

Demikian rangkuman materi Koneksi Antar Materi yang saya buat, semoga bermanfaat.


JURNAL REFLEKSI MODUL 2.3. COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

 

REFLEKSI MENGGUNAKAN MODEL DISCROLL (WHAT - SO WHAT - NOW WHAT)

What

Pembelajaran modul 2.3. memasuki tahap akhir, yaitu Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi, dan Aksi Nyata. Pada tahap Demonstrasi Kontekstual, saya melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Praktik berlangsung secara informal untuk menggali potensi rekan sejawat sebagai coachee dalam menentukan komitmen diri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada tahap akhir ini, ada sesi elaborasi yang semakin menguatkan pemahaman saya terkait praktik coaching di sekolah kepada guru dan murid. Pada tahap elaborasi oleh instruktur, Monika Irayati, saya mendapat tambahan wawasan terkait coaching. Beberapa di antaranya, yaitu Tut Wuri Handayani mindsetMindset ini menempatkan murid sebagai mitra belajar, mengandung kasih dan persaudaraan, bersifat emansipatif, dan merupakan ruang perjumpaan pribadi. Selain itu juga mendapat wawasan tentang paradigma pendampingan coaching sistem AMONG. Paradigma tersebut meliputi apresiasi, rencana, tulus, dan inkuiri.

So What

Ada perasaan bahagia ketika akhirnya bisa melakukan praktik coaching dengan rekan sejawat. Namun, juga ada perasaan khawatir apabila ternyata hasil praktik coaching yang saya lakukan menurut orang lain masih membutuhkan banyak perbaikan. Selain itu, kekhawatiran juga terkait dengan belum bisanya hasil praktik memotivasi diri meningkatkan kompetensi ke depannya. Karena memang masih dalam tahap latihan. Meskipun demikian, saya melakukannya dengan serius dan persiapan matang. Terlepas dari kekhawatiran itu, setidaknya saya sudah berusaha melakukan praktik coaching dengan sebaik-baiknya. Ada keyakinan perasaan seperti itu pada akhirnya akan perlahan menghilang setelah melalui latihan. Hasil pengamatan pada diri sendiri sebenarnya saya cenderung memiliki prinsip yang penting sudah dilakukan sebaik-baiknya. Perkara bagaimana hasilnya, itu urusan belakang. Saya cenderung seperti ini saat latihan pertama. Saya selalu berpikir bahwa akan ada kesempatan bagi yang mau melakukan perbaikan. Dari latihan praktik coaching tersebut, ada hal yang berubah. Terutama menyangkut pemahaman tentang coaching. Pada awal mempelajari materi sepertinya coaching akan berat dilakukan. Namun, setelah dipraktikkan ternyata bisa. Ke depannya saya menjadi lebih yakin akan lebih mudah karena sudah sering latihan.

Now What

Melakukan hal baru membutuhkan kekuatan dan kemampuan. Tidak terkecuali praktik coaching dalam komunitas sekolah. Beruntung saat sesi praktik coaching di sekolah, teman yang berperan sebagai coachee sangat kooperatif. Oleh karena itu, agar lebih untuk itu saya harus belajar. Sesi elaborasi dengan instruktur adalah saat yang tepat untuk menambah pemahaman. Saya meyakini tambahan informasi dari instruktur akan sangat membantu saya nantinya saat harus melakukan coaching kepada murid. Hal baru adalah terkait penerapan coaching sebagai mindset dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya coaching sudah dilakukan, sehingga dengan perubahan mindset dapat menjadikan coaching sebagai pembiasaan. Pelaksanaan coaching dalam komunitas di sekolah tentu tidak bisa sendiri. Sebagai kegiatan yang kolaboratif, praktik coaching membutuhkan dukungan dari banyak pihak terkait. Bentuk dukungan yang saya harapkan adalah adanya masukan terhadap praktik coaching yang saya lakukan. Selain itu, dukungan berupa komitmen dari rekan sejawat untuk terus terlibat dalam kegiatan coaching. Baik itu sebagai coachee maupun coach. Ini merupakan dukungan utama agar praktik coaching menjadi budaya positif dalam komunitas di sekolah. Dukungan dari pihak sekolah juga sangat dibutuhkan dalam bentuk izin menyelenggarakan coaching maupun penguatan terhadap komunitas yang ada. Selain itu, dukungan dari orang tua berupa peran aktif memberikan laporan terkait permasalahan anaknya selama belajar di rumah.

Rencana terdekat adalah melakukan latihan coaching lagi dengan murid sebagai coachee. Hal ini saya lakukan agar setelah selesai mengikuti program ini akan mampu memiliki kompetensi coaching murid yang lebih baik. Sedangkan hal baik yang bisa saya bagi kepada rekan sejawat di sekolah adalah bahwa praktik coaching ini sangat membantu guru dan murid dalam menyelesaikan masalah oleh dirinya sendiri berdasarkan potensi yang dimiliki. Selain itu, dengan adanya jadwal berbagi dalam komunitas praktisi akan membuat praktik coaching ini sebagai budaya positif di sekolah.

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3. COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK



DEFINISI COACHING:
"Coaching merupakan proses kolaborasi yang fokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri pertumbuhan pribadi dari sang coachee." (Grand, 1999).

PARADIGMA BERPIKIR COACHING :

1. Focus pada coache yang akan dikembangkan
2. Bersikaf terbukan dan ingin tahu
3. Memiliki kesadaran diri yang kuat
4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

PRINSIP COACHING :

A. KEMITRAAN : dalam coaching posisi coach terhadap coache adalah Mitra ,artinya setara ,tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah .
B. MEMAKSIMALKAN POTENSI : untuk memaksimalkan potensi dan rekan sejawat ,percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan
C. PROSES KREATIF : proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan yang dua arah memicu proses berpikir coache memetakan dan menggali situasi coache untuk menghasilkan ide -ide baru .

KOMPETENSI INTI COACHING :

PRESENCE ( KEHADIRAN PENUH ) : Kemampuan untuk bisa hadir dalam keadaan Normal badan,pikiran dan hati saat melakukan percakapan coaching .
MENDENGARKAN AKTIF : Seorang coach yang baik akan mendengarkan Lebih banyak dan lebih sedikit berbicara ,focus dan pusat komunikasi adalah pada diri coache .
MENGAJUKAN PERTANYAAN BERBOBOT : Pertanyaan yang diajukan dapa menggugah orang untuk berpikir ,menstimulasi pemikiran coache ,memunculkan hal hal baru, serta mengungkap emosi coache.

PERCAKAPAN MODEL ALUR TIRTA :

T : TUJUAN : coach harus menanyakan Tujuan utama seoarang coache.
I : IDENTIFIKASI : Proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coache .
R : RENCANA AKSI : coach membantu coache dalam memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi .
TA : TANGGUNG JAWAB : Komitmen Coache dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya

SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PARADIGMA BERPIKIR COACHING

Sepervisi akademik perlu dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompentensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yaitu pebelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Prinsip prinsip supervise akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi : kemitraan ,konstruktif ,terencana, reflektif, objektif, berkesibnambungan dan komprehensif. Tahapan dalam supervise akademik meliputi : Pra -Observasi ,Obesrvasi dan Pasca Observasi .

PENGALAMAN REFLEKTIF TERKAIT PENGAKAMAN BELAJAR :

  • EMOSI YANG DIRASAKAN : Saya merasa Tertantang untuk lebih banyak belajar tentang coaching sebab ini bis akita gunakan untuk mengindentifikasi dan memahami keadaan peserta didik kita di sekolah .
  • YANG SUDAH BAIK YANG PERLU DIPERBAIKI : Saya mendapatkan pemahaman coaching yang sudah dipraktekkan. Yang perlu saya perbaiki dalam coaching adalah memberikan pertanyaan yang berbobot .
  • IMPLIKASI TERHADAP KOMPETENSI DIRI : Saya mendapatkan sebuah Tekhnik Belajar yang baru dan ingin memanfaatkannya di sekolah dan orang orag sekeliling saya .

ANALISIS UNTUK IMPLEMEMTASI DALAM KONTEKS CGP :

  1. Sebagai seorang coach kita harus memunculkan pertanyaan yang berbobot untuk menggali semua potensi coache
  2. Dalam mengelola materi ajar kita sebagai CGP harus lebih kreatif dan menumbuhkan ide ide baru yang akan memancing semua rekan sejawat untuk lebih giat dalam pembelajaran di sekolah
  3. Tantangan terbesar kita sebagai seorang calon guru penggerak adalah harus siap tampil lebih baik dari teman teman yang lain yang penuh dengan kreatifitas yang luar biasa
  4. Untuk melawan arus tantangan ini kita sebagai cgp harus membuat suatu terobosan baru yang memunculkan hal hal yang sangat bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk sekolah dan seluruh Rekan sejawat.

KONEKSI ANTAR MATERI :

  • PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI : dalam pembelajaran berdiferensiasi diadakan pemetaan dengan tiga cara : minat siswa ,kebutuhan belajar ,dan profil pelajar siswa . Pemetaan ini digunakan seorang coache dalam proses coacing kepada murid sehingga murid mampu mengoptimalkan potensi diri untuk menemukan solusi terbaik .
  • PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL : Kompetensi Sosial dan emosional yaitu kesadaran diri ,pengolahan diri ,kesadaran social ,keterampilan berelasi dan pengambilan keputusdan yang bertanggung jawab . KSE digunakan sebagai coach dalam proses coaching terhadap coache agar terjadi pengendalian diri dan emosi untuk coach dan coache serta menimbulkan rasa empati dan rasa social serta mengambil keputusan yang tepat . 
KETERKAITAN COACHING DENGAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN:

Untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid diperlukan kerja keras dan komitmen dari seorang guru untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Salah satu caranya yaitu dengan terus meningkatkan kompetensinya. Guru dituntut untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan belajar tiap murid yang berbeda-beda dengan memberikan pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus bisa mengenali emosi dan membangun hubungan sosial-emosional dengan murid, dan juga guru harus bisa menjadi seorang coach bagi murid-muridnya dalam rangka mengembangkan segala potensi yang ada pada murid. Guru yang berperan sebagai coach menunjukan sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid. 

Mulai Dari Diri Modul 2.3. Coaching Untuk Supervisi Akademik

 


Pertanyaan-pertanyaan reflektif sesi mulai dari diri:

1.      Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi     oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

Selama menjadi guru dan ketika diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah, perasaan saya merasa cemas, gugup, dan grogi karena saya merasa akan dinilai kelengkapan administrasi dan cara mengajar saya. Kekhawatiran ini sebagai kewajaran karena kwatir ada kekurangan dalam kelengkapan dokumen administrasi mengajar atau dalam pelaksanaannya didalam kelas, karena meskipun saya selalu melakukan refleksi setiap melakukan pembelajaran, dengan meminta masukan dari siswa tentang apa yang kurang dari cara saya dalam mengajar, tentang bagian atau materi mana yang belum dipahami guna perbaikan pembelajaran selanjutnya, tetapi karena merasa sedang dinilai terkadang membuat menjadi canggung dan kurang merasa nyaman serta kurang percaya diri.

Banyak hal yang saya temukan ketika disupervisi, utamanya untuk perbaikan pembelajaran saya kedepannya. Refleksi diri sendiri atau pun bersama murid. Masukan bisa menjadi sebuah kritik yang membangun dan saran mengenai proses pembelajaran atau pun perangkat pembelajaran yang dikembangkan yang bisa menjadi ide atau gagasan perbaikan kedepan.

2.             Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut.

Saat observasi, biasanya kepala sekolah atau pengawas memberitahukan dahulu tentang jadwal observasi dan meminta saya melengkapi dokumen-dokumen pembelajaran seperti Rencana program tahunan, program semester, silabus, RPP, jurnal mengajar, daftar kehadiran murid, daftar nilai/kemajuan murid, serta perangkat pendukung lainnya misalnya LKPD, buku ajar, instrument penilaian dan rubrik penilaian. Setelah kelengkapan observasi kelengkapan dokumen, kepala sekolah atau pengawas sekolah melakukan supervise dikelas tentang bagaimana saya melakukan pembelaran sesuai dengan RPP yang telah saya buat sebelumnya.

Pasca kegiatan observasi, kepala sekolah atau pengawas sekolah memberikan umpan balik yang berupa masukan-masukan guna perbaikan pembelajaran selanjutnya. Masukan-masukan tersebut selanjutnya saya catat sebagai bahan refleksi saya guna dilakukan perbaikan dan penyempurnaan.

Setelah saya perbaiki berdasarkan hasil masukan yang telah saya catat sebelumnya, kemudian saya membuat rencana tindak lanut (RTL) dan menyampaikannya Kembali kepada kepala sekolah atau pengawas sekolah.

3.            Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?

Menurut saya proses supervisi akademik yang ideal adalah supervisi dapat memberikan bimbingan, motivasi dan bantuan teknis  kepada  guru  yang  mengalami  kesulitan  dalam  kegiatan  pembelajaran  sehingga  dapat meningkatkan profesional guru.

4.       Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.

Diposisi 10 (ideal)

5.             Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

§  Pengetahuan dan keterampilan melakukan coaching supervisi akademik

§  Pengetahuan dan pemahaman kompetensi guru seperti kompetensi kepribadian, pedagogic, sosial, dan kompetensi akademik sesuai mata pelajaran yang diampuhnya.

§  Kompetensi sosial emosional

 Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :

1.           Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?

Sebagai seorang pendidik dan sebagai pemimpin pembelajaran dan pemimpin sekolah dimasa depan, tentunya tidak akan lepas dengan tugas supervisi akademik. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pembelajaran yang saya lakukan sudah berpihak kepada murid. Selain itu saya memiliki keterampilan dalam melakukan cooching dalam melakukan supervise akademik, selain itu bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri.

2.             Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

·           Paradigma  berpikir  Among, 

·           Prinsip  coaching, 

·           Kompetensi coaching,

·           Alur  percakapan  TIRTA  dan 

·           Supervisi  akademik  dengan  paradigma  berpikir  coaching.

Harapannya  setelah  mempelajari  dan  mempraktekkan  beberapa  latihan  percakapan berbasis  coaching  dapat menguatkan perjalanan pembelajaran saya menjadi seorang pemimpin pembelajaran dan kepala sekolah.

 

JURNAL REFLEKSI MODUL 2.2. PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL (PSE)

REFLEKSI PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL



Pada refleksi kali ini saya mencoba menggunakan Model Driscoll yang biasa kita kenal dengan model "WHAT ?" dengan tahapan sebagai berikut :

WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi); apa yang terjadi, apa yang saya dengar, saya lihat, dan saya alami, serta apa reaksi saya pada saat itu.

SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi); bagaimana persaan saya, apa yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau apapun diyakini sebelumnya.

NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi); dukungan apa yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti refleksi saya, bagaimana yang saya kerjakan dahulu, hal baru apa yang saya bagikan.


Hasil Refleksi:

WHAT (Deskripsi peristiwa yang terjadi)

Apa yang terjadi?

Pada tanggal 14 November 2022, Pendidikan guru penggerak memasuki modul 2.2 yaitu tentang Pembelajaran sosial dan emosional. Pembelajaran dilakukan secara mandiri di LMS baik secara sinkronus maupun asinkronus. Selanjutnya dilakukan diskusi antara CGP dengan fasilitator dalam ruang kolaborasi. Pada ruang kolaborasi ini, saya berdiskusi dalam kelompok bersama anggota CGP lain yang sesuai dengan kelas masing-masing untuk mendiskusikan tentang tugas kompetensi sosial dan emosional, selanjutnya dihari berikutnya dilakukan presentasi hasil kerja kelompok.

Pada tanggal 23 November 2022, dilanjutkan dengan kegiatan elaborasi pemahaman tentang pembelajaran sosial dan emosional dari instruktur Agus Sampurno yang membahas mengenai konsep dasar pemahaman tentang PSE yang dapat diterapkan guru kepada anak didiknya dengan tujuan memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan menerapkan tujuan positif (pengelolaan diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Apa yang saya dengar, lihat, dan saya alami?

Selama mengikuti pembelajaran sosial dan emosional, saya banyak mendengar dan melihat bagaimana pembelajaran ini diterapkan dikelas dari pengalaman CGP dan dibantu Fasilitator untuk mengarahkan baik dalam diskusi-diskusi kelompok maupun dalam ruang kolaborasi yang sudah dijadwalkan sehingga saya mendapatkan pengalaman berharga dari CGP dan Fasilitator dalam saya menerapkan pembelajaran sosial dan emosional ini disekolah dan kelas saya tentunya. Inti dari pembelajaran ini adalah bagaimana guru dapat memahami begitu pentingnya pemahaman PSE dalam mengelola emosinya sehingga dapat menciptakan budaya positif dalam dirinya.

Apa reaksi saya pada saat itu?

Reaksi saya saat mempelajari modul 2.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional ini pastinya sangat senang karena saya mendapatkan pencerahan bagaimana mengelola emosi saya ketika saya dihadapkan pada persoalan-persoalan saya dalam melakukan pembelajaran terhadap anak didik saya, sehingga lebih mampu mengelola kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan mengambil keputusan yang bertanggungjawab. 

SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

Bagaimana perasaan saya?

Perasaan saya selama mengikuti pembelajaran PSE, saya merasa sangat beryukur karena dengan pemahaman 5 KSE, mendapatkan pengalaman belajar baru baik dari modul LMS maupun dari praktek baik teman-teman CGP lain yang memperkaya pemahaman saya tentang PSE. Materi ini juga dapat membantu saya dalam mengelola kelas saat murid saat mereka berada pada titik-titik jenuh dalam belajar.

Apa pemikiran dan pendapat yang berubah dari saya?

Sebelum mempelajari materi ini saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional merupakan kebiasaan, karakter maupun perilaku seseorang yang dapat saja muncul secara reflek dalam menanggapi sebuah permasalahan yang dihadapi dan sulit untuk diarahkan atau dikelola menjadi hal positif dalam diri seseorang. Ternyata sosial dan emosional seseorang dapat dilatih dan diarahkan dengan berbagai teknik misalnya dengan teknik STOP untuk menenangkan diri dalam mengelola emosi yang timbul. 

NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

Dukungan apa yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti refleksi saya?

Pembelajaran sosial dan emosional akan lebih berdampak pada murid apabila kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif antara guru rekan sejawat, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan tentunya orang tua murid, yang artinya dibutuhkan kemauan dan kesungguhan dari berbagai pihak.

Bagaimana yang saya kerjakan dahulu?

Saya akan memulainya mulai dari diri saya dahulu dengan menjadi rpbadi yang well being. Saya akan terus berusaha menciptakan iklim dan budaya positif, dan akan saya lakukan secara konsisten sehingga akan menjadi inspirasi bagi warga sekolah lain untuk terus belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki kompetensi sosial dan emosional.

Hal baru apa yang ingin dibagikan?

Terhadap murid, saya akan mulai menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional mereka dengan merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat menciptakan kesadaran penuh dalam pembelajaran dikelas.

Sedangkan terhadap rekan-rekan sejawat, saya akan membagikan pemahaman dan pengalaman saya dalam menguatkan KSE melalui : 

  1. Memodelkan peneran KSE dalam peran dan tugas
  2. Menciptakan budaya mengapresiasi dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama
  3. Mengagendakan kegiatan
Demikian refkelsi saya atas Pembelajaran Sosial dan Emosional. Semoga bermanfaat.

Jurnal Refleksi Modul 2.1. Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Kebutuhan Belajar Murid

REFLEKSI TENTANG PEMBELAJARAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN  BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI


Model refleksi menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).

Facts (Peristiwa) 

Perjalanan mempelajari modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test, Dengan soal Panjang sempat terkendala jaringan, hampir dalam mengerjaannya tidak cukup waktu. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat. 

Feelings (Perasaan)

Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi membuat penasaran karena sebagai guru harus memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Selama ini hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi. Efek/ dampak yang ada mengabaikan bahwa ada banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya, namun guru dituntut bisa memfasilitasi murid dengan berbagai jalan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan murid. 

Findings (Pembelajaran) 

Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid. 

Penerapan (Future)

Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostic non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam prakteknya butuh proses dan terus belajar. Semoga dapat berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid menjadi aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.


Refleksi Modul 1.4. Pendidikan Guru Penggerak - Budaya Positif

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan

Modul 1.4 - Budaya Positif

Eksplorasi konsep untuk Budaya positif yang ada pada modul 1.4 terdiri dari beberapa bagian yaitu.

2.1. Perubahan Paradigma -Stimulus Respon lawan Teori Kontrol

CGP dapat memahami miskonsepsi tentang kontrol dan selanjutnya mengadakan perubahan paradigma stimulus-respon menjadi teori kontrol. CGP juga melakukan refleksi atas penerapan praktik disiplin yang dijalankan di sekolahnya.

2.2. Arti Disiplin dan 3 Motivasi Perilaku Manusia

CGP dapat memahami konsep disiplin positif dihubungkan dengan teori motivasi perilaku manusia, serta konsep motivasi internal dan eksternal.

2.3. Keyakinan Kelas, Hukuman dan Penghargaan

CGP dapat memahami pentingnya memiliki keyakinan kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas, yang pada akhirnya akan menciptakan budaya positif. 

2.4. Lima (5) Kebutuhan Dasar Manusia

CGP memahami bahwa setiap tindakan murid dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang berbeda-beda dan agar menjadi individu yang selamat dan bahagia, kebutuhan dasar harus terpenuhi secara positif. CGP memahami bahwa kebutuhan dasar dapat dipenuhi dengan cara positif atau negatif oleh karena itu peran guru adalah memberdayakan anak agar dapat memenuhi kebutuhannya secara positif.

2.5 Lima (5) Posisi Kontrol 

CGP dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. CGP dapat mengetahui dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Monitor dan Manajer agar dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab.

2.6 - Segitiga Restitusi

CGP memahami dan menerapkan restitusi melalui tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.

Pada Minggu ke delapan kita belajar mengenai penerapan budaya positif di kelas atau di sekolah.Budaya positif merupakan salah satu penentu keberhasilan keberhasilan pembelajaran di kelas.

Pada pembuatan jurnal mingguan ini saya masih menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):

Berikut ini contoh jurnal minggu kedelapan dari kegiatan pembelajaran Mengenai budaya positif di sekolah yang ada pada modul 1.4.

Peristiwa 

  • Banyak hal baru yang saya pelajari dari modul 1.4. tentang budaya positif ini, saya mengetahui konsep tentang disiplin positif,motivasi perilaku manusia,keyakinan kelas,hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, dan segitiga restitusi. 
  • Materinya sangat banyak dan merupakan pengetahuan baru bagi saya pribadi mengenai keyakinan kelas,dampak penerapan penghargaan bagi murid.selain itu saya juga memahami bagaimana cara menerapkan displin positif bagi diri sendiri dan murid saya.
  • Membutuhkan membaca intensif untuk memahami materi-materi yang ada di modul 1.4 karena banyak materi yang harus dipelajari dan membutuhkan pemahaman yang lebih untuk bisa menyerap dan menerapkan konsep budaya positif di sekolah/kelas.

Perasaan 

  • Perasaan saya sangat senang, tambah ilmu dan pengetahuan baru dan semakin membuka wawasan saya untuk menjadi guru yang lebih baik. Ada beberapa disiplin positif yang sudah saya jalankan di kelas sesuai dengan konsep budaya positif meskipun belum maksimal menerapkan disiplin positif tersebut yang berpihak pada murid. Yakni disiplin positif yang saya terapkan masih sebatas untuk menjalankan peraturan agar terlepas dari sanksi hukum atau sekedar mendapatkan penghargaan. 
  • Padahal yang seharusnya disiplin positif adalah untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. 

Pembelajaran 

  • Setelah mempelajari modul budaya positif ini, akhirnya saya melakukan refleksi diri, ternyata banyak konsep yang sudah saya jalankan meskipun belum maksimal, contohnya pada posisi kontrol selama ini saya kebanyakan masih pada posisi penghukum dan memberikan penghargaan pada siswa , terkadang di posisi teman namun belum bisa pada posisi kontrol sebagai manajer. 
  • Pada konsep pemenuhan kebutuhan dasar, selama ini saya tidak pernah berfikir bahwa siswa yang berbuat salah sebenarnya siswa tersebut sedang dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dasarnya yang harusnya bisa saya arahkan cara pemenuhannya dengan cara yang positif. Keyakinan kelas dan segitiga restitusi juga sudah saya lakukan namun semuanya masih belum sepenuhnya berpihak pada murid. 

Penerapan

  • Kedepan saya akan berusaha melaksanakan budaya positif dengan penuh harapan agar murid saya menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya . 
  • Melalui budaya positif yang nantinya akan saya terapkan di kelas, saya ingin merealisasikan stigma yang pernah saya dengar yaitu "Tidak ada murid yang nakal/bodoh, yang ada adalah murid yang belum ketemu dengan guru yang tepat". Semoga saya adalah salah satu dari guru yang tepat tersebut melalui penerapan budaya positif ini.

 

Contact Form

Name

Email *

Message *